Blog

Sejarah Perkembangan Kaos

Kaos Murah – T- Shirt atau kebanyakan orang sering menyebutnya dengan kaos atau kaos oblong, pada awal kemunculannya adalah sebagai pakaian dalam dalam militer, pada saat itu yang menggunakan adalah satuan tentara Inggris dan tentara Amerika tepatnya pada sekitaran abat ke 19 sampai awal abad ke 20. T- Shirt sendiri berasal dari bahasa inggris, namun asalnya tidak diketahui secara pasti kaos diberinama dengan T- Shirt. Teori yang berkembang dan paling masuk akal pada saat itu sampai sekarang adalah karena bentuk dasarnya kaos menyerupai hurut “T”. Gabungan badan dan kedua lengan jika di bentangkan akan menyerupai huruf T.  Hal tersebut pula lah yang mendasari  pasukan militer menyebutnya sebagai “training shirt”.

jasa-konveksi-kaos-promosi-murah-di-semarang ok
Pada saat itu (abad 19 – awal abat 29), penggunaan kaos masih terbatas pada kepentingan mliliter saja sebagai pakain dalam dan training, sedangkan masyarakat umum belum mengenal serta belum menggunakan kaos dalam kehidupan sehari-hari. Dan sebenarnya penggunaan kaos pada militerpun pada saat itu masih tergolong terbatas, hanya pada saat-saat udara panas dan aktivitas-aktivitas yang tidak menggunakan seragam ketentaraan. Kaos yang dikenakan pun masih terbatas dalam hal diasinya dibandingkan sekarang, kaos yang dienakan terbatas pada kaos polos saja tanpa motif tertentu. Sangat berbeda dengan perkembangan kaos saat ini.

T-shirt mulai popular dimasyarakat umum sekitar tahun 1947, setelah actor yang bernama Marlon Brando mengenakannya pada sebuah derama yang berjudul “A Street Named Desire karya Tenesse William, dimana saat itu dia berperan sebagai Stanley Kowalsky di Broadway, AS.  Kaos yang dia kenakan pada saat itu adalah kaos dengan warna abu-abu yang memang pasdi tubuh Brando, serta sesuai dengan karakter tokoh yang diperankannya. Setelah itulah kaos mulai dikenal secara umum oleh masyarakat. Namun lagi-lagi penggunaannya masih terbatas pada kegiatan-kegiatan tertentu saja.

Adalah James Dean yang menjadi bintang dalam film Rebel Without A Cause (1995) yang mampu mengangkat kaos pada era keemasanya. Hampir setiap orang yang menonton filmnya langsung berdecak kagum. Betapa tidak, pada saat itu memang kaos belum popular, masyarakat umum masih awam mengenakan kaos, kebanyakan adalah kemeja safari, atau kemeja biasa yang sring dikenakan oleh masyarakat kemanapun pergi. Setelah pemutaran film itu, masyarakat tersadarkan bahwa kaos merupakan busana yang layak dijadikan pilihan untuk dikenakan dan berbondonglah mereka mulai menggunakan kaos mudah dalam berbagai aktifitas. Meski perkembangan pemakain kaos meningkat setelah keberhasilan film itu, tak sedikit pula yang beranggapan bahwa pemakaian kaos murah merupakaan bentuk kekurangajaran dan pemberontakan terhadap kultur yang ada pada saat itu. Tak pelak hal tersebut muncullah polemik seputar pemakain kaos.

Masyarakat yang kontra terhadap pemakain kaos murah beranggapan bahwa pemakain kaos (kaos oblong-reb) – undershirt – sebagai pakain luar merupakan perbuatan yang tidak sopan dan tidak beretika. Berbeda dengan masyarakat yang pro penggunaan kaos murah sebagai pakaian luar beragumen bahwa kaos murah bukan semata sebagai tren namun juga melambangkan sebuah kebebasan dalam hidup bermasyarakat.

Seperti yang terjadi pada saat ini, sebuah polemic bukan merupan sebuah ancama pada keberlangsungan sesuatu yang dipelemikan, polemic justru akan mengankat popolaritas dari yang dipolemikan. Hal ini terja pula pada kaos, polemik mengenai pantas tidaknya pemakain kaos sebagai pakain luar dalam kehidupan sehari-hari justru mengangkat publisitas dan popularitas kaos murah (kaos oblong) dalam percaturan busana. Selain mengangkat pamor dari T- Shirt, polemik tersebut juga ahirnya menciptakan peluang baru dalam percaturan usaha konveksi.  Berbondong, berbagai perusahaan garmen/konveksi mulai memproduksi kaos guna dipasarkan. Dan pada saat itu, mulailah sejarah perkembangan kaos mulai dicatat, pelbagai bentuk dan warna serta model kaos murah mulai diperoduksi secara besar-besaran. Citra kaos semakin menanjak lagi manakala Marlon Brando sendiri – dengan berkaos oblong yang dipadu dengan celana jins dan jaket kulit – menjadi bintang iklan produk tersebut. sumber dari wikipedia indonesia

(Visited 104 times, 1 visits today)

This Post Has 0 Comments

Leave A Reply






+ 7 = 15